Arsitektur Lanskap yang “Jualan” di Malam Hari: Refleksi Praktis di Monumen Jogja Kembali

Dari Proyek Kolosal ke Peluang Bisnis Malam

[sp_wpcarousel id=”332″]

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan ke Monumen Jogja Kembali (Monjali) di Yogyakarta. Bangunan utamanya yang berbentuk tumpeng dikelilingi kolam dan hamparan lanskap yang luas. Namun, yang menarik perhatian saya adalah bagaimana area site kolosal ini “berubah baju” di malam hari, berkat kehadiran Taman Pelangi.

Ini bukan sekadar monumen bersejarah, tapi juga masterpiece arsitektur lanskap yang cerdas, yang berhasil menciptakan added value ekonomi di luar jam operasional utamanya.

Menghormati Sang Maestro: Jasa Arsitektur Lanskap Slamet Wirasonjaya

Monjali adalah karya arsitektur yang monumental. Namun, tahukah Anda, lanskap di sekitarnya juga punya “ruh” yang kuat. Saya ingin memberikan apresiasi tinggi kepada mendiang Prof. Slamet Wirasonjaya, Guru Besar Arsitektur ITB dan Bapak Arsitektur Lanskap Indonesia.

Karya-karya beliau—termasuk Grand Space Monas dan Monjali—selalu mengedepankan semangat ruang publik; tempat orang berkumpul dan bersosialisasi. Desain lanskap yang beliau rancang tidak hanya menyeimbangkan visual bangunan kerucut Monjali yang ikonik, tapi juga memastikan area luar (pelataran dan taman) fungsional, kokoh, dan berkesinambungan.

Dari sudut pandang praktisi bahan bangunan, karya Slamet Wirasonjaya adalah pelajaran tentang perencanaan site yang visioner. Lanskap yang kuat dan terstruktur dengan baik adalah canvas yang memungkinkan fungsi lain berkembang di atasnya, seperti yang kita lihat di malam hari.

Taman Pelangi: Ketika Lighting dan Material Jadi Aktor Utama

Di sinilah nilai praktis arsitektur lanskap terlihat maksimal. Di sore hari, area Monjali berfungsi sebagai pengingat sejarah, namun menjelang malam, spot ini bertransformasi menjadi Taman Pelangi—sebuah taman lampion yang penuh warna.

  • Ekonomi Pencahayaan: Daya tarik utama Taman Pelangi adalah ratusan lampion dan tata lampu tematik yang mengubah suasana. Ini adalah studi kasus low-cost, high-impact dalam desain lanskap. Bahan utamanya: lampion, tiang penyangga, dan kabel lampu LED. Bagi kami di B2B, ini adalah bukti bahwa produk pencahayaan (Lampu) dan material pendukung instalasi bukan cuma elemen dekorasi, tapi bisa menjadi mesin ekonomi baru bagi sebuah site.
  • Kanvas Lanskap yang Fleksibel: Struktur lahan Monjali yang luas, datar, dan dikelilingi kolam terbukti sangat fleksibel. Tata ruang yang terencana oleh Alm. Prof. Slamet Wirasonjaya memungkinkan penambahan elemen temporer seperti lampion, wahana, dan food court tanpa merusak fungsi utama monumen.
  • Peran Hardscape dan Softscape: Bayangkan jika hardscape (jalan setapak, pembatas) dan softscape (rumput, pepohonan) dirancang asal-asalan. Tentu tidak akan mampu menampung ribuan pengunjung malam yang datang untuk selfie di terowongan lampion atau naik wahana. Keberhasilan Taman Pelangi membuktikan bahwa infrastruktur dasar lanskap (perkerasan dan drainase yang baik) adalah fondasi bisnis rekreasi malam yang kokoh.

Arsitektur Lanskap Adalah Investasi Multifungsi

Monjali, dengan perpaduan keagungan historis di siang hari dan keceriaan visual di malam hari, memberikan pelajaran penting bagi para developer dan pemilik proyek: arsitektur lanskap bukan sekadar biaya, tapi investasi yang bisa menciptakan fungsi ganda dan pendapatan baru.

Di balik lampion yang jenaka, ada peran besar dari arsitek lanskap legendaris seperti Prof. Slamet Wirasonjaya dalam menyiapkan ruang publik yang tangguh dan fleksibel. Tugas kita sebagai praktisi adalah memastikan material bangunan dan produk pendukung (seperti lighting atau perkerasan) berkualitas, sehingga visi besar para desainer ini bisa terwujud, bertahan lama, dan terus “menjual” di berbagai waktu. (dra)

Sumber & Foto-foto : Monjali Jogja

ARTI AI
ARTI - AI Knowledge Hub