Bukan Hanya Stadion: Bisnis Material di Balik Arsitektur Kota Multi-Fungsi NTT

Strategi Arsitektur Kota Berkelanjutan untuk Optimalisasi Potensi Ekonomi Penyelenggaraan Multi Event Olahraga Nasional

Sebagai praktisi yang hidup dari menjual material, saya sering melihat proyek hanya dari satu sisi: berapa kubik, berapa meter persegi, dan kapan closing. Namun, saat saya hadir di Architectural Design & Management Workshop for Sport Facilities ISFEX 2025, presentasi dari Ar. Don Ara Kian, IAI membuka mata saya lebar-lebar. Beliau membahas strategi arsitektur kota berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Intinya bukan cuma membangun stadion megah, tapi bagaimana bangunan itu bisa menghidupkan ekonomi dan melayani masyarakat multi-fungsi.

Bagi saya, ini bukan lagi soal arsitektur murni, tapi soal manajemen risiko supply chain dan potensi pasar bahan bangunan yang sangat besar di NTT menjelang PON XXII tahun 2028.

Realitas Bisnis Material di Balik Desain Multifungsi

Ar. Don Ara Kian memaparkan bahwa pengembangan infrastruktur di NTT, khususnya untuk PON 2028, menghadapi kendala multifaset—dari logistik hingga pemanfaatan jangka panjang. Ini adalah kabar baik sekaligus warning bagi kita, para penyedia bahan bangunan.

1. Tantangan Logistik dan Distribusi Material

Fakta bahwa NTT terdiri dari kawasan kepulauan dan wilayah terpencil adalah tantangan logistik kelas berat. Persiapan infrastruktur NTT untuk PON 2028 dilaporkan baru mencapai sekitar 30%. Hal ini memunculkan pertanyaan penting bagi penjual seperti saya:

  • Berapa lama lead time pengiriman material premium? Pengalaman di Papua menunjukkan bahwa pengiriman material bisa memakan waktu yang sangat lama.
  • Strategi Stockpile: Developer dan kontraktor di sana tidak bisa mengandalkan pengiriman just-in-time. Mereka butuh supplier yang memahami manajemen risiko material di kepulauan.

Ini artinya, produk bahan bangunan yang menang di NTT bukanlah yang termurah, melainkan yang paling efisien dan memiliki rantai pasok paling andal.

2. Durabilitas Material di Iklim Pesisir

Konsep arsitektur kota berkelanjutan menuntut desain yang sesuai iklim tropis—mempertimbangkan suhu tinggi, kelembapan, ventilasi, dan efisiensi energi. Mengingat NTT memiliki banyak kawasan pulau dan pesisir, bahan bangunan harus tahan banting:

  • Fasad Bangunan: Perlu material fasad yang tahan korosi air laut dan radiasi matahari ekstrem. Memilih panel yang salah berarti garansi produk kita akan jadi mimpi buruk dalam tiga tahun.
  • Hardscape Lapangan: Perkerasan (semen, paving) di area publik, seperti di kawasan Penkase Sport City , harus mampu menahan beban dan cuaca ekstrem agar tidak cepat mangkrak.

Di sini, konservasi dan adaptasi lokal adalah kunci desain. Arsitek lanskap harus memilih material yang meminimalkan dampak lingkungan.

3. Keuntungan Multifungsi bagi Bisnis Material

Ar. Don Ara Kian menekankan bahwa fasilitas olahraga harus dirancang agar multifungsi dan bisa menjadi tempat komunitas dan interaksi sosial, bukan hanya untuk event kompetisi.

  • Implikasi Material Interior: Venue seperti Auditorium Politeknik Negeri Kupang (Kapasitas 1.000 kursi) atau GOR Flobamora membutuhkan solusi interior fleksibel. Mereka bukan hanya untuk Angkat Besi atau Kempo, tetapi juga untuk event non-olahraga, rapat, atau wisuda. Ini membuka peluang bagi produk seperti Retractable Seating atau partisi moving wall yang saya kenal baik.
  • Recovery Investasi: Infrastruktur dibangun dengan konsep Mix Use (seperti Penkase Sport City) bertujuan agar dapat memberi manfaat, terutama dalam recovery investasi yang besar. Bagi supplier, ini berarti volume penjualan material pendukung (retail, hospitality, lobi hotel, dan ritel) akan meningkat di sekitar lokasi venue utama.

Fokus pada Solusi, Bukan Masalah

Menghadapi proyek sebesar PON 2028 di NTT, Arsifista.id melihat bukan hanya tantangan fisik dan logistik , tetapi juga peluang untuk para praktisi B2B menunjukkan keahlian sesungguhnya: menyediakan solusi yang andal dan berkelanjutan.

Keberhasilan proyek di NTT akan sangat bergantung pada seberapa cerdas para kontraktor, developer, dan supplier material mengimplementasikan strategi desain berkelanjutan yang diulas oleh Ar. Don Ara Kian. Jangan hanya fokus menjual, fokuslah pada menyediakan material yang menjamin keberlanjutan dan multi-fungsi fasilitas pasca-event.(dra)


Arsifista.id  merupakan ruang ini terbuka sebagai Kolaborasi Otentik untuk arsitektur & building material
Untuk berkontribusi tulisan/artikel dapat mengunjungi halaman dibawah ini!
https://arsifista.id/artikel-arsitektur/

Rumah Gayungsari: Ketika Bata Bercerita, Bukan Sekadar Menutup Dinding

[sp_wpcarousel id=”316″]

Sebagai sales bahan bangunan, saya terbiasa melihat rumah tinggal dari sisi fungsi, efisiensi, dan tentu saja—kemungkinan jualan. Tapi ada satu proyek yang bikin saya berhenti sejenak, bukan untuk hitung margin, tapi untuk merenung: Rumah Gayungsari karya Andy Rahman Architect. Bukan rumah besar, bukan rumah mewah, tapi rumah yang “berbicara”.

Bukan Rumah Biasa Rumah Gayungsari ini bukan proyek yang dibangun untuk pamer kemewahan. Justru sebaliknya, rumah ini seperti ingin bilang, “Saya tahu saya kecil, tapi saya punya cerita.” Dan cerita itu disampaikan lewat material yang sangat akrab di dunia bahan bangunan: bata.

Sebagai orang lapangan, saya tahu betul bata itu biasanya cuma jadi pelengkap. Tapi di tangan Andy Rahman, bata jadi tokoh utama. Dipasang bukan sekadar menutup dinding, tapi membentuk pola, ritme, bahkan bayangan. Bata jadi medium komunikasi visual yang jujur dan tidak sok tahu.

Arsitektur yang Tidak Menggurui Saya pernah bertemu langsung dengan Andy Rahman di dua kesempatan seminar—satu di Surabaya, satu di Jakarta. Beliau bukan tipe arsitek yang bicara teknis rumit atau pakai istilah akademik yang bikin sales seperti saya angkat tangan. Gaya bicaranya santai, tapi dalam. Dan itu tercermin di proyek ini.

Rumah Gayungsari tidak mencoba jadi “arsitektur tinggi”. Ia tetap membumi, tetap fungsional, tapi punya karakter. Ada elemen lokal, ada permainan cahaya, ada privasi yang dijaga tanpa harus menutup diri dari lingkungan. Ini bukan desain yang ingin mengajar, tapi ingin berbagi.

Dari Perspektif Sales: Ini Rumah yang Bisa Dijual Kalau saya diminta menilai dari sisi pemasaran bahan bangunan, proyek ini punya banyak poin jual. Pertama, penggunaan material lokal—bata, kayu, dan elemen ventilasi terbuka—menunjukkan bahwa desain bagus tidak harus mahal. Kedua, tampilan fasad yang unik bisa jadi daya tarik visual yang kuat, apalagi di pasar urban yang mulai jenuh dengan desain generik.

Ketiga, rumah ini punya nilai storytelling. Dan dalam dunia sales, cerita itu penting. Klien tidak hanya beli produk, mereka beli makna. Rumah Gayungsari menawarkan makna itu lewat desain yang jujur dan kontekstual.

Refleksi: Arsitektur yang Bisa Didekati Sebagai penulis yang bukan arsitek, saya merasa proyek ini membuka ruang dialog. Ia tidak eksklusif, tidak membuat orang awam merasa “tidak cukup pintar” untuk mengerti. Justru sebaliknya, ia mengundang kita untuk melihat, merasakan, dan mungkin bertanya: “Kalau rumah bisa bicara, kira-kira apa yang ingin ia sampaikan?”

Rumah Gayungsari menjawab pertanyaan itu dengan tenang. Ia tidak berteriak, tapi juga tidak diam. Ia hadir sebagai rumah yang tahu siapa dirinya, dan tidak takut untuk menunjukkan itu. (dra)

Sumber & Foto : Andy Rahman Architect